RIP Uskup Emeritus Jayapura Mgr. Herman F. Maria Munninghof, OFM

by

BELANDA – Kabar dukacita datang dari negeri Belanda, seorang tokoh yang sangat dicintai masyarakat Papua, Uskup Emeritus Jayapura Mgr. Herman F. Maria Munninghof, OFM menghembuskan nafas terakhirnya, pada usia 97 tahun. Beliau mengabdi selama 52 tahun untuk tanah misi Papua yang diawalinya dari daerah Arso, Jayapura, Papua.

Kabar dukacita langsung disampaikan oleh Sekretaris Provinsi OFM Indonesia Saudara Antonius Widarto, OFM, Kamis siang (8/2) di Kramat, Jakarta Pusat.

Mgr. Munninghoff adalah Uskup kelahiran Woerden, Belanda, 30 November 1921. Ia lalu dithabiskan menjadi Imam Fransiskan pada 15 Maret 1953. Memulai misinya di Arso, Jayapura pada tahun 1954. Kemudian pada tanggal 6 Mei 1972 beliau ditahbiskan menjadi Uskup Jayapura dengan pentahbis utama Uskup Agung Semarang ketika itu, Kardinal Justinus Darmojuwono (Kardinal-Imam Santissimi Nome di Gesù e Maria in Via Lata) dengan Pentahbis Pendamping: Uskup Agung Emeritus Merauke, Mgr Herman Tillemans MSC dan Uskup Agats, Mgr Alphonsus Augustus Sowada OSC.

Setelah lama menjadi Uskup, beliau memilih istirahat sebagai Uskup Jayapura pada 29 Agustus 1997 yang kemudian diteruskan oleh Mgr. Leo Laba Lajar, OFM sampai hari ini. Pada tahun 2009, Mgr. Munninghof yang mengabdikan diri selama 52 tahun di tanah Papua memilih kembali ke negeri asalnya di Belanda untuk mengisi masa tuanya.

Banyak catatan terkait Mgr. Munninghof terutama perjuangannya membomgkar kasus HAM di tanah Papua. Berdasarkan catatan Kompas 25 Juni 2009, Mgr. Munninghof adalah sosok di balik pengungkapan kasus pelanggaran hak asasi manusia di sekitar PT Freeport Indonesia tahun 1994 yang membuka banyak tabir pelanggaran HAM di Papua. Sejak itu orang Papua mulai bicara tentang pelanggaran HAM di daerah mereka. “Uskup Munninghoff memulai karier sebagai pastor di Arso, Jayapura, tahun 1954. Arso, daerah di perbatasan RI-PNG, terkenal dengan kemiskinan, kebodohan, ketertindasan, dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Daerah itu juga dijadikan basis pertahanan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM),” demikian ditulis Kompas.

Puluhan tahun ia berjalan kaki dari kampung ke kampung. Menyeberangi sungai, mendaki gunung, menuruni tebing, dan menyusuri lembah membawa pesan kemanusiaan. Dia seakan tak peduli ketika malaria menyergapnya atau saat digigit lintah. Munninghoff seakan tak hirau dengan pekerjaan berat walau tenaga terbatas. Secara bersamaan, terjadi kekerasan sebagai ekses operasi militer sejak tahun 1970-an untuk memberantas kelompok OPM. Operasi itu cenderung di luar prosedur hukum dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pada saat itulah sebagai kepala gereja di Keuskupan Jayapura, Munninghoff terus bergulat dengan situasi penuh kekerasan. Semasa Orde Baru, pelanggaran HAM terjadi di mana-mana. Setiap hari selalu ada laporan kekerasan, pembunuhan, teror, intimidasi, dan perusakan rumah penduduk di beberapa tempat. “Sampai pada Tahun 1994 Munninghoff angkat bicara. Ia mulai mengungkap kasus kekerasan militer di sekitar perusahaan PT Freeport Indonesia. Ia mengumpulkan data dari korban kekerasan militer di Timika, seperti dari ”Mama” Yosepha Alomang dan rekan-rekannya. Munninghoff merupakan orang pertama yang mendorong gereja di Papua agar melawan kekerasan itu dengan suara ”kenabian”.

Selamat Jalan Yang Mulia Mgr. Ferdinandus Maria Munninghoff, OFM. Berbahagialah Bersama Para Kudus di Surga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *